Krisis Moralitas Dalam Dunia Pendidikan

Krisis Moralitas Dalam Dunia Pendidikan

Futatsunonamae – Di tengah kegilaan parpol dan berbagai perdebatan, berbagai kasus pelecehan maksiat yang menimbulkan kerugian moral kembali bermunculan. Jangan kewalahan saat mencoba menghancurkan tanah Indonesia ini dengan noda hitam yang hancur. Seperti halnya korupsi, fenomena kehancuran moral negara berakar, menghilang dan muncul di tengah modernisasi dan sulit diberantas.

Munculnya berbagai persoalan seperti ini menggarisbawahi kenyataan bahwa moralitas bangsa kini sedang dalam kesulitan. Krisis moral yang telah menyusup ke bidang pendidikan dan menarik tenaga pendidik juga merembet ke siswa. Betapa paradoksnya. Tidak hanya para pendidik, tetapi juga masyarakat terpelajar pun terjangkit berbagai perilaku yang melanggar moralitas.

Sebagaimana tercantum dalam Kode Etik Pendidik: “Guru tidak boleh berperilaku dengan cara yang melanggar hubungan profesional siswa dan norma sosial, budaya, moral atau agama.” Namun, sebenarnya masih banyak pelanggaran yang menyimpang dari kode etik ini.

Ini adalah salah satu tindakan yang menciptakan krisis moral yang mempengaruhi pendidik di negara kita. Ada kemungkinan lebih banyak kasus perbuatan asusila yang dilakukan oleh para pendidik, namun hal ini sengaja disembunyikan dengan dalih melindungi reputasi lembaga tertentu. Itu menjadi cerminan dari fakta bahwa moral guru telah mengalami krisis. Dimana pendidik tidak lagi tertarik pada moralitas, tetapi hanya pada keinginan dan keinginan. Betapa negara ini akan menghasilkan generasi yang bermoral sementara banyak pendidik hanya melakukan perbuatan asusila.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, para pendidik tidak hanya melakukan perbuatan asusila, tetapi mereka yang terlatih tidak mau kalah. Berbagai jenis kasus yang terkait dengan tindakan amoral adalah hal biasa. Kerusuhan pelajar, kejahatan yang dilakukan pelajar, kasus penyimpangan yang biasa terjadi di kalangan pelajar. Situasi ini menunjukkan bahwa moral siswa sedang mengalami krisis. Fenomena ini sudah lama kita amati dan sudah sepantasnya kita menyebutnya sebagai krisis yang berkepanjangan dalam moral siswa.

Perubahan dalam sistem pendidikan ditangani. Banyak peraturan pemerintah diberlakukan. Dari undang-undang perlindungan anak hingga tindak pidana, semuanya mengarah pada peningkatan moral. Semuanya dilakukan dengan harapan pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi muda yang bermoral. Memang, kemerosotan moral masih menjadi wabah bagi negeri ini.

Pendidik tidak hanya memberikan layanan, tetapi tidak malu dengan ‘layanan’ yang berbeda. Dan siswa tidak hanya menerima apa yang mereka lihat, tetapi ‘menemukan’ dan ‘meniru’ mereka, menyebabkan kekerasan, kejahatan dan bahkan pelecehan seksual.

Secara mental tentang aktivitas pendidik di jaman dahulu. Para pendidik selama kolonialisme dapat menanggung generasi yang beradab dan menjaga moralitas dan kejujuran. Hal tersebut dibuktikan dengan lahirnya generasi emas Indonesia seperti Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin dan tokoh-tokoh hebat lainnya mampu membantu Indonesia merdeka. Semuanya tanpa bantuan. Hanya buku dan papan tulis yang digunakan oleh guru untuk mengajar siswanya. Tidak ada koneksi internet, alat komunikasi yang canggih. Pendidikan pada masa itu memang mampu melahirkan generasi yang selama ini menjadi kisah pendidikan penting di Indonesia.

Dibandingkan hari ini. Globalisasi yang pesat, perkembangan teknologi dan berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan. Riset ilmiah, riset teknologi, perkembangan teknologi di bidang pendidikan masih belum mampu mendidik moral generasi muda dan sipil.

Jika moralitas tidak lagi dihormati, berbagai kekacauan dan masalah muncul untuk negara. Jika moralitas diabaikan, maka korupsi yang ada hanya ada di segala bidang dan aspek kehidupan.

Memang akhlak merupakan sesuatu yang memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan khususnya dalam dunia pendidikan. Di era globalisasi saat ini, pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi suatu bangsa. Faktor terpenting dalam menghasilkan kualitas orang yang berdaya saing, sekaligus berakhlak tinggi dan bermoral tinggi.

Di sini kami mempertimbangkan peran pendidik. Menentukan moralitas diri sendiri sebelum dilanjutkan dengan pembentukan moralitas siswa. Kurikulum pendidikan karakter yang diterapkan saat ini juga meragukan bahwa tidak hanya aspek kognitif dan kecerdasan pendidikan yang diutamakan. Namun, mampu menanamkan kecerdasan intelektual dan karakter yang kuat pada generasi muda. Akhlak anak bangsa ini karenanya tidak akan lagi mengalami krisis atau kemunduran. Oleh karena itu diharapkan embrio bangsa Indonesia dapat memajukan negeri ini melalui pendidikan moral dan mengubah pandangan negatif negara lain.

Sudah saatnya bangsa ini menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bermoral, berkewarganegaraan dan beretika. Namun jika guru tidak mampu mengarahkan siswanya pada moral gender. Siapa yang Anda harapkan?

Artikel diatas dilansir dari situs riverspace.org